PENJARA: Basmi Sipir Nakal

JOGJA—Sipir
diduga menjadi salah satu faktor narapidana mendapatkan fasilitas lebih
di dalam penjara. Adanya kongkalikong antara sipir yang nakal, pembezuk
dan napi membuat praktik seperti itu bisa terus terjadi.
Al, 30 warga Srandakan, Bantul mengaku pernah mengalami peristiwa
dengan sipir nakal saat membezuk kerabatnya di Rumah Tahanan (Rutan)
Wates beberapa waktu lalu.
Berdalih karena jam bezuk sudah lewat, dia terpaksa harus membayar
Rp50.000 kepada salah seorang petugas jaga. “Memang waktu itu saya agak
telat, jadi awalnya dibilang sudah lewat waktu kunjungan. Tapi karena
saya ngotot ada keperluan, saya terpaksa harus memberikan pelicin,” ujar
dia saat ditemui Senin (3/12) sore. Dia mengaku sering mendengar
pembesuk lainnya juga melakukan hal serupa.
Pengalaman tidak mengenakkan dari pengunjung juga dialami
Alamanda,23, warga Bandung, Jawa Barat. Dia kehilangan laptop saat
bertandang ke tempat itu, beberapa bulan silam. Petugas pun berkelit
tidak ada yang mengambil laptop miliknya.
Ia menceritakan saat itu sekira pukul 11.30 WIB bersama lima orang
temannya, mahasiswa asal Bandung, menjenguk Tukijo, tokoh Paguyuban
Petani Lahan Pantai di Rutan Wates.
“Kami hanya diperiksa badan dan baju kami, tas tidak diperiksa. Saat
itu laptop saya masih berada di dalam tas. Ada saksi teman saya,” aku
Alamanda.
Kemudian sekitar pukul 12.15 WIB mereka meninggalkan tempat
tersebut.“Beberapa jam kemudian, saya buka laptop saya diganti dua buah
buku yang ditaruh di dalam kresek hitam. Berat bukunya sama dengan
laptop saya makanya saya tidak curiga saat menggendong tas beratnya
sama,” jelas Alamanda.
Saat mengkonfirmasi peristiwa itu, lanjut Alamanda, kepala keamanan
rutan membantah jika laptop hilang saat berada didalam Rutan.
//Fasilitas
Kepala Lapas Wirogunan, Riyanto tak mengelak jika masih ada sipir
nakal yang memudahkan tahanan untuk mendapatkan fasilitas pendukung
tindak kejahatan seperti ponsel. “Ya bisa- bisa saja ada yang seperti
itu, tapi kalau ketahuan saya akan saya tindak,” ujar Riyanto.
Tapi sejauh ini Riyanto belum pernah mendapati sipir yang kedapatan
melakukan praktik tersebut. Tercatat Riyanto belum lama menjabat sebagai
Kepala Lapas Wirogunan, yakni sekitar 2010.
Penjagaan selama ini menurut Riyanto cukuplah ketat. Selepas
narapidana keluar dari ruang kunjungan keluarga, penjaga langsung
memeriksa tahanan. Bahkan ketika memasuki blok dan sel, narapidana tetap
diperiksa.
Hanya saja hal itu masih dianggapnya lemah, karena pemeriksaan hanya
dilakukan secara manual. Menurutnya beda halnya ketika di lapas terdapat
alat pemindai seperti di bandara dan alat pelacak sinyal sehingga napi
tidak bisa berkomunikasi. “Pekerjaan yang dilakukan secara manual
menjadi momok. Mutlaknya harus ada,” kata Riyanto.
Kepala Divisi Pemasyarakatan, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan
HAM (Kanwil Kemenkumham) DIY, Dwi Swastono Haryanto tidak bisa menjamin
100% lapas bersih narkoba.
“Selama peredaran narkoba di luar itu masih ada, kami tidak bisa
menjamin 100 persen bersih. Tapi kami terus berupaya agar itu tidak
terjadi dalam lapas dan menekan penjagaan itu dengan upaya misalnya di
lapas pasang alat pengacak sinyal. Kemudian meningkatkan penggeledahan
terhadap tamu, pengunjung dan warga binaan,” katanya, kemarin.
Sumber : http://www.soloposfm.com/2012/12/penjara-basmi-sipir-nakal/